angin sejuk berhembus merambat tulang
dingin menusuk nadi
sepiku termenung diam ditempat ini, ditemani alam
tenang jiwa dibalut kepedihan
lamun ku menyatu rapat dengan suara gemerisik angin yang menyentuh dedaunan
tenang....
kutarik nafas dalam
sungguh....
ingin aku menjadi satu dengan kesunyian ini
tak ada beban....
tanpa derita dan sakit hati lagi
tapi semua tak ada yang abadi
maya.... mengembara, melayang
bermain bersama ranting-ranting
kabut kelabu tiba-tiba turun menyelimuti belantara
kutajamkan telinga
hanya suara lembut burung-burung menyambut nurani yang lelah ini
aku.... terlena ditemani alam
cakrawala senja semburat jingga membara
indah di kejauhan melambungkan angan
aku terpaku menatap langit
lamunku mengembara jalang liar
sedang apa ya Tuhan saat ini
sedang istirahat sambil minum kopi kah....
atau sedang mandi dan bersiap untuk nonton manusia
bayangku nakal membuat senyum tersipu
mungkin Tuhan saat ini sedang bersiap untuk jalan-jalan
belanja dan cuci mata lihat cewek sexy
aaaaahhh...........
biar saja Tuhan mau ada apa
tak peduli aku
biarlah
tak ada yang membuat kita bahagia
kecuali dari dalam diri kita sendiri
tak akan ada tawa
seandainya tak ada tangis
tapi mengapa tak ada tanya yang tak berjawab
dan
aku sekarang sedang bertanya dan jawablah
ketika aku berjalan, kamu ikut berjalan
ketika aku mulai berlari, kaki mu pun berayun cepat
dan
ketika aku berbalik untuk menegurmu
kamu semakin kencang berlari dan menabrakku
terjengkang aku surut kebelakang
kamu
tak berhenti
menoleh pun tak kau lakukan
aku tercenung menahan lara
bukan raga ku tapi jiwa ku terluka
ketika kesabaran terkikis.... kesadaran terhanyut rasa
ketika kesetiaan diperdebatkan.... cinta kemudian dipertanyakan
sentuhan dan belaian seakan ilusi belaka
dingin beku menyengat relung jiwa
adakah dendam ini akan terbawa mati
ataukah derasnya darah dalam nadi menyaput arus
aku lelah telah mengikutimu sedemikian jauh
tanpa pernah kulihat batas dan ujung
ketika pertanyaan-pertanyaan tak berjawab
masih perlukah semua ini dipertahankan
langit malam gulita tersapu awan kelam
bias cakrawala tak berbatas
langkahku terhenti bukan karena ingin
panggilan lemah disudut hati memaksaku mencari
terdiam aku melihat jiwaku tercabik
lemah tanpa daya aku menggapai
melangkah aku dibatas cakrawala
tanpa asa dan tujuan
langit kelam.... gelap tak berbintang
sepi menggelayut relung jiwa
terdiam aku disudut kamar
gulita setia menjadi teman
hanya tarikan nafas lemah terhembus hangat
angan merentas maya
bermain di awang nan jalang
terbuai aku sesaat
ketika lamun ku tersadar
engkau telah pergi, menjauh dan hilang
aku sedang bahagia
tapi sungguh aku tak tahu
apa yang bisa membuat hatiku berbunga
apakah karena dikelilingi orang-orang yang sayang padaku
atau karena sebab lain
semua terasa tak nyata
tapi sungguh
aku sedang berbahagia
ingin aku bagi kebahagiaan ini
buat semua

ketika bahagia itu ada
semua nya terasa bagai ilusi
ketika bahagia itu di depan mata
semua nya terasa bagai impian
kusambut dengan senyum
tapi hati ku gundah
tak mengerti aku mengapa masih ada ragu di hati
benar kah..............untuk ku kah...
ketika bibir ini diam terlumat birahi
merinding aku menyambutnya
masih sulit aku percaya
yang pasti
aku kembali terjebak
dalam hubungan semu yang memabukkan
dan aku bahagia oleh nya

apakah benar aku menginginkan cinta
benarkah aku butuh sayang
perhatian yang seperti bagaimana lagi yang aku perlukan
semua pertanyaan itu berputar di otakku
tak pernah aku mendapat jawaban yang pasti
ketika seseorang menawarkan kasih itu
aku malah ketakutan
benarkah itu...... atau ini hanya gurauan
tanganku selalu menyambut dengan terbuka
tetapi hatiku sebenarnya tak pernah menerimanya
begitu banyak kepalsuan dibumi ini
dan aku selalu terjebak oleh kepalsuan itu
benarkah cinta itu masih ada di bumi ini
cinta yang seperti bagaimana
semua hanya ilusi